21 Cara Ampuh dan Paling Manjur Mengobati serta Mencegah Penyakit Disentri

Pernahkah anda mendengar penyakit disentri ? Sebutan penyakit ini sangat sering kita dengar di masyarakat untuk menyebutkan gangguan berupa peradangan pada usus yang menimbulkan tinja berlendir dan bercampur darah. Disentri pada dasarnya merupakan gangguan pada pencernaan yang ditandai dengan peradangan atau infeksi pada usus. Penularan penyakit ini umumnya melalui makanan atau air yang telah terkontaminasi dan kontak langsung dengan penderita disentri. Meskipun disentri sebenarnya bisa sembuh tanpa dilakukan penanganan medis dalam beberapa hari, namun kita tetap perlu waspada karena disentri bisa menyebabkan dehidrasi, apalagi bila penderita mengalami diare berdarah atau berlendir yang berlangsung beberapa hari, maka tindakan medis sangat diperlukan sesegera mungkin karena beresiko menyebabkan kematian. Penanganan disentri menjadi perhatian utama orang tua terutama kepada golongan anak-anak dengan gejala diare berkelanjutan lebih 6 kali dalam 24 jam dan mengalami muntah-muntah yang menyebabkan dehidrasi hebat. Hal ini dikarenakan daya tahan tubuh anak-anak terhadap dehidrasi lebih rendah dibandingkan dengan orang dewasa. 

Berdasarkan penyebabnya, disentri dikelompokkan menjadi 2 jenis, yakni :
  1. Disentri basiler (sigelosis) yang disebabkan oleh bakteri shigella yakni Shigella sonnei, Shigella flexneri, Shigella boydii, dan Shigella dysenteriae (penyebab disentri yang paling parah), Escherichia coli enteroinvasif, Salmonella, dan Campylobacter jejuni.
  2. Disentri amoeba (amoebiasis) yang disebabkan oleh amoeba (parasit bersel tunggal), yaitu Entamoeba histolytica yang biasanya ditemukan di daerah tropis dan sering menyerang anak-anak berusia diatas 5 tahun.
Disentri bakteri tergolong yang paling sering terjadi, terutama yang disebabkan bakteri shigella (disentri basiler atau shigelosis). Bakteri shigella yang ditemukan dalam tinja dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi tinja manusia, terutama bahan makanan (sayuran, buahan,dsb) yang tidak dimasak sampai matang atau yang mentah. Selain itu air minum yang sudah terkontaminasi bakteri, tinja manusia yang digunakan sebagai pupuk, tangan penderita yang terinfeksi disentri, air kolam yang terkontaminasi, dsb juga bisa menjadi faktor penyebaran wabah disentri. Penyebaran penyakit ini juga sering terjadi di lingkungan yang memiliki sanitasi buruk (kotor dan kumuh), daerah yang memiliki keterbatasan air bersih, dan di daerah yang padat penduduk. Pola hidup yang kurang sehat seperti makan tanpa mencuci tangan setelah bermain di tempat kotor juga dapat memberi jalan bagi masuknya bakteri atau parasit amoeba penyebab disentri.
 
Disentri diawali dengan proses masuknya bakteri tersebut melalui makanan/minuman yang dikonsumsi dan menyerang sel-sel yang melapisi usus besar. Bakteri tersebut berkembang biak, membunuh sel-sel, dan menyebabkan gejala disentri. Disentri basiler biasanya lebih ringan dibanding dengan disentri amoeba yang berbahaya, karena amoeba akan menyerang dinding usus besar, mengakibatkan luka atau tukak (ulkus) dan menimbulkan pendarahan. Itu sebabnya tinja penderita disentri amoeba cenderung mengandung darah. Disentri amoeba dapat berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu dan bila tidak segera ditangani, amoeba akan tetap bertahan di usus. Amoeba tersebut dapat menyebabkan kambuhnya diare dan akan menularkan kepada orang lain. Selain itu, amoeba terkadang bisa masuk ke aliran darah dan menyebar ke organ lain, seperti hati, mengakibatkan perut bengkak, demam, lemas, mual, batuk, tidak nafsu makan, sakit kuning, berat badan menurun, dsb
 
Secara umum, gejala disentri seperti :
  • Sakit (kram) pada perut dan anus saat BAB
  • Diare yakni buang air besar encer yang terjadi tiga kali atau lebih dalam 24 jam
  • Buang air besar dengan tinja bercampur lender(mucus) dan darah (terjadi pada masa inkubasi 1-7 hari setelah infeksi). Kondisi seperti ini biasanya berlangsung 3-7 hari
  • Demam tinggi (diatas 38ÂșC )
  • Mual atau muntah
  • Pada penderita anak-anak selain gejala diatas biasanya terlihat gejala rewel, cepat mengantuk, kondisi tubuh semakin lemah, jarang buang air kecil dibanding biasanya, tangan dan kaki terasa dingin, kulit menjadi pucat atau berbintik.
  • Nafsu makan dan berat badan menurun
  • Pada disentri akibat amoeba, frekuensi BAB umumnya lebih sedikit dibandingkan disentri basiler (≤10x/hari) dan terkadang disertai gejala kejang, sakit kepala, kaku pada tengkuk serta halusinasi
 
Bila anda atau keluarga anda sedang mengalami disentri jangan khawatir, yuk simak 21 Cara Ampuh dan Paling Manjur Mengobati serta Mencegah Penyakit Disentri, sebagai berikut :
Pengobatan Disentri :
  1. Berikan cairan oralit yang biasanya dapat dibeli bebas tanpa resep dokter, penggunaannya dengan cara melarutkan dengan air sebelum diminum. Pemberian oralit bertujuan untuk menggantikan garam, glukosa, dan mineral penting lainnya yang hilang dari tubuh karena dehidrasi akibat diare dan muntah.
  2. Berikan air putih untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang, pemberian dilakukan secara bertahap
  3. Mengkonsumsi makanan padat, namun hal ini tidak berlaku pada penderita golongan anak-anak. Mereka cukup diberikan minum air sampai gejala dehidrasi sudah mulai berkurang. Bila mereka sudah tidak rewel lagi atau tidak sering buang air, barulah boleh diberikan makanan seperti biasa
  4. Penderita anak-anak sebaiknya diberikan makanan lunak, mudah dicerna, dan mengandung protein tinggi untuk keperluan mempercepat proses penyembuhan.
  5. Bila dilakukan penanganan secara medis, maka akan dilakukan diagnosis sampel kotoran (tinja) untuk diperiksa di laboratorium guna memastikan penyebab disentri apakah karena bakteri atau amoeba.
  6. Bila disentri disebabkan oleh bakteri shigella (shigellosis), penderita dsarankan untuk meminum antibiotik, antara lain:
    • Ciprofloxacin yang berguna untuk mempercepat proses penyembuhan.
    • Kotrimoksazol (trimetoprim 10mg/kbBB/hari dan sulfametoksazol 50mg/kgBB/hari) yang dibagi dalam 2 dosis, selama 5 hari. 
    • Ampisilin 100mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis. 
    • Cefixime 8mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis.
    • Ceftriaxone 50mg/kgBB/hari, dosis tunggal IV atau IM. 
    • Asam nalidiksat 55mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis.
  1. Bila disentri disebabkan oleh amoeba, maka antibiotik yang tepat adalah metronidazol, tinidazol, dsb. Metronidazol 30-50mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 10 hari. Biasanya keadaan akan membaik dalam 2-3 hari setelah minum antibiotic tersebut.
  2. Untuk membunuh kista amoeba yang masih berada di usus, maka setelah selesai meminum antibiotik, dilanjutkan dengan memberikan obat diloxanide selama 10 hari.
  3. Untuk meminimal tingkat keparahan disentri terutama pada anak-anak, dapat diberikan vitamin A (200.000 IU) dosis tunggal. Selain itu penderita juga perlu diberikan buah-buahan seperti pisang dan buahan dalam bentuk jus seperti jus jeruk, jus jambu biji, jus wortel, madu, yang dapat membantu mengurangi diare. Manfaat madu adalah sebagai anti inflamasi dan anti bakteri untuk membantu mempercepat proses penyembuhan disentri. Perlu diketahui bahwa obat alami akan bekerja secara perlahan tapi efektif bila dibandingkan dengan obat-obat kimia yang bekerja cepat.
  4. Yang perlu anda perhatikan adalah, bila disentri pada anak menyebabkan kesadaran anak menurun, kondisinya makin lemas, tidur terus-menerus, perut kembungnya tidak kempes-kempes, tak bisa buang angin, darah yang keluar saat buang air besar makin banyak, suhu tubuh yang tinggi (diatas 40 derajat Celcius) dan tidak kunjung turun mengakibatkan demam, menggigil hingga kejang, maka anak harus segera dibawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang cepat karena bisa jadi telah terjadi komplikasi dan perdarahan di usus. 

Pencegahan disentri :
  1. Membiasakan pola hidup sehat yakni mencuci tangan dengan sabun antiseptic atau disinfektan sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah menggunakan toilet, setelah memegang daging mentah, dan setelah bermain dengan hewan peliharaan.
  2. Memperhitungkan jarak lokasi pembuangan kotoran (WC/jamban/septitank) dengan sumber air serta tempat tinggal.
  3. Menjaga kebersihan dapur, kamar mandi, dan biasakan membersihkan toilet dengan larutan disinfektan setelah selesai buang air besar.
  4. Tidak mengkonsumsi makanan yang kebersihannya tidak terjamin (diragukan) misalnya makanan yang dijual di pinggir jalan yang beresiko terkontaminasi bakteri
  5. Tidak meminum air sebelum dimasak, mengkonsumsi susu, keju atau produk susu yang belum dipasteurisasi, alternatif yang aman adalah air kemasan yang sudah dimurnikan, minuman bersoda dari kaleng tertutup atau botol yang terjamin higienis
  6. Mencuci sayuran sebelum dimasak atau buah-buahan sebelum dikonsumsi sebaiknya dikupas terlebih dahulu
  7. Menyimpan bahan makanan ataupun makanan pada tempat tertutup yang tidak terkena paparan langsung sinar matahari atau berada di ruangan, misalnya di lemari pendingin (kulkas).
  8. Memisahkan antara makanan yang masih mentah dan yang sudah dimasak dan memasak makanan sampai benar-benar matang
  9. Hindari menggunakan handuk atau peralatan makan (sendok, piring, gelas, dsb) yang digunakan oleh penderita disentri untuk mencegah penyebaran penyakit disentri.
  10. Bila anda berada di tempat umum seperti termpat rekreasi atau kolam renang jangan sampai tertelan air di kolam atau terminum sumber air di tempat rekreasi.
  11. Jangan berbagi pakai (meminjamkan) perlengkapan pribadi seperti handuk, sikat gigi, pakaian, dsb dengan orang lain apalagi dengan penderita disentri untuk mengurangi resiko penyebaran penyakit disentri .